Senin, 08 Juni 2015

Fungsi dan Fitur pada Sistem Pembangun Virtualisasi Data Center

Virtualisasi data center adalah suatu cara untuk melakukan konsolidasi dan melakukan pengurangan jumlah server dalam bentuk fisik, caranya dengan menciptakan mesin virtual dalam jumlah banyak yang ditempatkan di beberapa host fisik, menggunakan storage dan jaringan. Salah satu softawre untuk sistem pembangun virtulisasi, kita dapat menggunakan VMware. Vmware vSphere membentuk sistem virtualisasi diatas fisik hardware dan kumpulan sumber daya information technology untuk data center, dengan komponen sbb:
a.       VMware ESXi yaitu Platform virtualisasi untuk vSphere.
b.  VMware vCenter Server yaitu perangkat bantu untuk melakukan manajemen virtualisasi, konfigurasi, provisi sumber daya TI.
c.    VMware vSphere Client : Antar muka untuk membolehkan pengguna melakukan konfigurasi secara remote terhadap vCenter Server atau ESXi dari PC bersistem operasi Microsoft Windows.
d.      VMware vSphere VMFS yaitu sistem file yang memiliki kinerja tinggi, digunakan untuk mesin-mesin virtual pada ESXi.
e.      VMware vSphere Virtual Symmetric Multiprocessing : Fasilitas yang memungkinkan suatu mesin virtual dapat menggunakan lebih dari satu prosesor  fisik secara simultan.

Virtual Machine
Menu File, ada beberapa settingan yaitu :
1.      File-Virtual Media Manager yaitu tempat mengatur media virtual, berisi semua media (hardisk, cd/dvd dan iso file)
2.      Machine–Refresh
3.      Machine–Show in explorer yaitu untuk melihat virtual machine dalam windows explorer
4.      Machine–Create shortcut on desktop yaitu untuk membuat shortcut VirtualBox desktop
5.      Machine – Sort yaitu untuk mengurutkan virtual machine.

Menu Help
Machine–Setting : settingan untuk virtual machine, ada beberapa settingan yaitu:
      1.      General. Ada beberapa Tab, yaitu:
            a.       Tab Basic yaitu berisi Nama, type, versi dari virtual machine
            b.      Tab advanced
ü  Shared clipboard
ü  Drag n drop fungsinya yaitu mengcopy file/folder yang ada di operating system utama/host ke operating system virtual, dan juga sebaliknya dari OS virtual ke OS utama
           c.       Tab description yaitu untuk menambahkan comment atau penjelasan singkat lainnya mengenai            virtual machine ini.
      2.      System. Ada beberapa Tab yaitu:
            a)      Tab motherboard : base memory, boot order, chipset dan extende fitur lainnya.
            b)      Tab processor : berisi processor dan pada bagian execution cap, dapat diatur persentase                        performa dari CPU.
           c).      Tab acceleration : ada pilihan centang agar bisa hardware menjadi virtualisasi, artinya dalam                virtual machine, bisa kita install virtual machine. Secara default, ini dapat tetaptercentang.
      3.      Display, terdapat beberapa tab yaitu :
            a.       Tab video
ü  video memory, bisa diatur dan tergantung dari monitor count.
ü  Monitor count, bisa di atur agar bisa menjadi lebih dari bebrapa monitor.
ü  Feature 3D, centang untuk mengenable fitur tampilan 3D pada virtual machine.
ü  Feature 2D, centang untuk mengenable fitur tampilan 2D, anmun fitur ini masih eksperiment
            b.      Tab remote display
ü  Storage : mendukung banyak controller seperti SATA, IDE, SCSI, SAS dan Floppy.
ü  Audio : centang untuk enable audio, ada pilihan driver dan audio controllernya.
ü  Network : NAT, Bridge, internal network, host-only adapter, dan generic adapter.
            c.       Serial port : maksimal ada 2 buah port, centang enable untuk mengaktifkan.
            d.      USB : secara default akan otomatis mendeteksi USB yang ada.
            e.       Shared folder : digunakan untuk membuat sharing folder dari system operasi hostnya (System             operasi utama yang menjalankan VirtualBox)

Komponen dari DATA CENTER :
1.   Power : Siklus daya yang mengubah daya pada perangkat off dan kemudian membuat perangkat berfungsi lagi (on).
            a.       Transfer Switch : Saklar listrik yang beralih beban antara dua sumber.
            b.      Uninterruptible Power Supply (UPS) : Catu daya seperti baterai untuk mempertahankan daya              dalam hal pemadaman listrik. UPS menjaga komputer berjalan selama beberapa menit setelah             pemadaman listrik, sehingga memungkinkan untuk menyimpan data yang ada di RAM dan                  mematikan komputer dengan aman.
2.   Heating Ventilation and Air Conditioning (HVAC) : Sistem HVAC mengendalikan lingkungan sekitar (suhu, kelembaban, aliran udara, dan penyaringan udara) dan harus direncanakan dan dioperasikan bersama dengan komponen data center lainnya seperti hardware, kabel manajemen, penyimpanan data, , sistem keamanan fisik dan daya.
3.    Physical Security : Keamanan fisik adalah perlindungan pada hardware, program, jaringan, dan data dari keadaan fisik dan kejadian yang dapat menyebabkan kerugian serius atau kerusakan pada suatu perusahaan, lembaga, atau institusi.
4.    Building Management System : Sistem kontrol berbasis komputer dipasang pada bangunan yang mengontrol dan memantau peralatan bangunan mekanik dan listrik seperti ventilasi, pencahayaan, sistem tenaga, sistem kebakaran, dan sistem keamanan.
5.      Compute Devices : Mesin untuk melakukan perhitungan secara otomatis.
6.     Network Devices : Komponen yang digunakan untuk menghubungkan komputer atau perangkat elektronik lainnya bersama sehingga dapat berbagi file atau sumber daya.
7.      IT support System : Sistem berbasis komputer yang mendukung kegiatan di data center.
8.   Miscellaneous Devices : Perangkat lain-lain yang mendukung dalam saat kegiatan operasional dilakukan.
9.      Storage : Kapasitas perangkat untuk menahan dan menyimpan data.
10.  Telecommunication : Mengacu pada semua jenis transmisi data, dari suara ke video.
11.  Rack Server : Rack yang khusus di rancang untuk penempatan server ataupun peralatan jaringan network seperti hub-switch.
12. Cables : Sarana penyalur atau pengalirhantar (transmitter) yang bertugas menyalurkan setiap informasi yang telah diubah menjadi sinyal–sinyal listrik.



Senin, 01 Juni 2015

VPN (VIRTUAL PRIVATE NETWORK)

VPN merupakan singkatan dari Virtual Private Network, yaitu sebuah koneksi private melalui jaringan publik (dalam hal ini internet). Disini ada 2 kata yang dapat kita garis bawahi yaitu:
1.     Virtual network, yang berarti jaringan yang terjadi hanya bersifat virtual. Tidak ada koneksi jaringan secara riil antara 2 titik yang akan berhubungan.
2.     Private, jaringan yang terbentuk bersifat private dimana tidak semua orang bisa mengaksesnya. Data yang dikirimkan terenkripsi sehingga tetap rahasia meskipun melalui jaringan publik.

Dengan VPN ini kita seolah-olah membuat jaringan didalam jaringan atau biasa disebut tunnel (terowongan). Tunneling adalah suatu cara membuat jalur privat dengan menggunakan infrastruktur pihak ketiga.
VPN menggunakan salah satu dari beberapa teknologi tunneling yang ada yaitu:
1.     PPTP
Dikembangkan oleh Microsoft dari PPP yang dipergunakan untuk remote access. Caranya:
a)   PPTP mengenkapsulasi frame yang bisa berisi IP, IPX atau NetBEUI dalam sebuah header Generic Routing Encapsulation (GRE). Tetapi PPTP membungkus GRE dalam paket IP. Jadi PPTP membutuhkan IP untuk membuat tunnel-nya, tetapi isinya bisa apa saja.
b)   Data aslinya dienkripsi dengan MPPE.
PPTP-linux adalah client software. Sedangkan yang server adalah PoPToP untuk Linux, Solaris dan FreeBSD.
2.     L2F
Dibuat Cisco tahun 1996. Bisa menggunakan ATM dan Frame Relay, dan tidak membutuhkan IP. L2F juga bisa menyediakan otentikasi untuk tunnel endpoints.
3.     L2TP
     Dikembangkan oleh Microsoft dan Cisco. Bisa mengenkapsulasi data dalam IP, ATM, Frame Relay dan X.25
Keunggulan L2TP dibandingkan PPTP:
a)     Multiple tunnels between endpoints, sehingga bisa ada beberapa saluran yang memiliki perbedaan Quality of Service (QoS).
b)    Mendukung kompresi
c)     Bisa melakukan tunnel authentication
d)    Bisa bekerja pada jaringan non-IP seperti ATM dan Frame Relay.
4.     IPSec
Dalam tunneling mode, IP Sec bisa dipergunakan untuk mengenkapsulasi paket. IP Sec juga bisa dipergunakan untuk enkripsi dalam protokol tunneling lainnya.
5.     SSH dan SSH2
Dikembangkan untuk membuat versi yang lebih aman dari rsh, rlogin dan rcp  pada UNIX. SSH menggunakan enkripsi dengan public key seperti RSA. SSH  bekerja pada session layer kalau merujuk pada OSI reference model, sehingga  disebut circuit-level VPN. SSH membutuhkan login account.
6.     CIPE
Adalah driver kernel Linux untuk membuat secure tunnel anatara 2 IP subnet. Data dienkripsi pada lapisan network layer (OSI) sehingga di sebut low-level encryption. Oleh karena itu CIPE tidak memerlukan perubahan besar pada layer-layer di atasnya (termasuk aplikasi).

1.     VPN membutuhkan sebuah server yang berfungsi sebagai penghubung antar PC, Server VPN ini bisa berupa komputer dengan aplikasi VPN Server atau sebuah Router, misalnya MikroTik RB 750.
2.     Untuk memulai sebuah koneksi, komputer dengan aplikasi VPN Client mengontak Server VPN, VPN Server kemudian memverifikasi username dan password dan apabila berhasil maka VPN Server memberikan IP Address baru pada komputer client dan selanjutnya sebuah koneksi / tunnel akan terbentuk.
3.     Untuk selanjutnya komputer client bisa digunakan untuk mengakses berbagai resource (komputer atu LAN) yang berada dibelakang VPN Server misalnya melakukan transfer data, ngeprint dokument, browsing dengan gateway yang diberikan dari VPN Server, melakukan remote desktop dan lain sebagainya.

Beberapa keuntungan dari teknologi VPN diantaranya adalah:
1.     Remote Access, dengan VPN kita dapat mengakses komputer atau jaringan kantor, dari mana saja selama terhubung ke internet
2.     Keamanan, dengan koneksi VPN kita bisa berselancar dengan aman ketika menggunakan akses internet publik seperti hotspot atau internet cafe.
3.     Menghemat biaya setup jaringan, VPN dapat digunakan sebagai teknologi alternatif untuk menghubungkan jaringan lokal yang luas dengan biaya yang relatif kecil, karena transmisi data teknologi VPN menggunakan media jaringan public yang sudah ada tanpa perlu membangun jaringan pribadi.

1.     Koneksi internet (jaringan publik) yang tidak bisa kita prediksi. Hal ini dapat kita maklumi karena pada dasarnya kita hanya "nebeng" koneksi pada jaringan pihak lain sehingga otomatis kita tidak mempunyai kontrol terhadap jaringan tersebut.
2.     Perhatian lebih terhadap keamanan. Lagi-lagi karena faktor penggunaan jaringan publik, maka kita perlu memberikan perhatian yang lebih untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyadapan, hacking dan tindakan cyber crime pada jaringan VPN.